
Apa Itu Misophonia? Memahami Gangguan Sensitivitas Suara yang Sering Disalahpahami
Misophonia adalah sebuah kondisi di mana seseorang mengalami reaksi emosional yang sangat kuat terhadap suara-suara tertentu. Istilah “misophonia” sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu miso (benci) dan phonia (suara), yang secara harfiah berarti “benci terhadap suara”.
Meski belum secara resmi diklasifikasikan sebagai gangguan mental dalam pedoman seperti DSM-5, misophonia semakin banyak diteliti dalam bidang Psikologi dan Neurosains karena dampaknya yang nyata terhadap kualitas hidup seseorang.
Apa Saja Gejala Misophonia?
Orang dengan misophonia biasanya memiliki “trigger” atau pemicu suara tertentu. Suara ini mungkin terdengar biasa bagi orang lain, tetapi sangat mengganggu bagi penderita. Contohnya:
- Suara mengunyah atau makan
- Bunyi napas berat
- Ketukan pena atau meja
- Suara klik (seperti keyboard atau mouse)
Reaksi yang muncul bisa berupa:
- Rasa marah atau kesal yang tiba-tiba
- Kecemasan
- Ingin menghindari situasi tertentu
- Dalam kasus ekstrem, bisa memicu stres atau ledakan emosi
Penyebab Misophonia
Hingga saat ini, penyebab pasti misophonia belum sepenuhnya dipahami. Namun, beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan dengan cara otak memproses suara, terutama di bagian yang mengatur emosi.
Beberapa faktor yang diduga berperan:
- Sensitivitas tinggi terhadap suara tertentu
- Pengalaman masa lalu yang terkait dengan suara tersebut
- Pola kerja otak yang berbeda dalam merespons stimulus
Apakah Misophonia Sama dengan Gangguan Lain?
Misophonia sering disalahartikan sebagai kondisi lain, padahal berbeda. Misalnya:
- Hyperacusis: sensitivitas terhadap volume suara (semua suara terasa terlalu keras)
- Gangguan kecemasan: reaksi emosional yang lebih umum, tidak spesifik pada suara tertentu
Pada misophonia, masalah utamanya adalah reaksi terhadap jenis suara tertentu, bukan kerasnya suara.
Cara Mengatasi Misophonia
Walaupun belum ada “obat” khusus, ada beberapa cara yang dapat membantu mengelola kondisi ini:
- Terapi perilaku (CBT)
Terapi ini membantu mengubah respons emosional terhadap suara pemicu. - Menggunakan white noise atau earphone
Menyamarkan suara pemicu dengan suara lain yang lebih netral. - Latihan relaksasi
Teknik seperti meditasi atau pernapasan dapat membantu mengurangi reaksi emosional. - Menghindari pemicu (jika memungkinkan)
Mengatur lingkungan agar lebih nyaman, terutama di rumah atau tempat kerja.
Kapan Harus Mencari Bantuan?
Jika misophonia sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, atau pekerjaan, sebaiknya berkonsultasi dengan profesional seperti psikolog atau psikiater.