Phobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan,terus-menerus dan tidak realistis terhadap suatu objek tertentu misalnya phobia dengan orang, binatang, aktivitas tertentu ,tempat,benda tertentu,dll. Tidak seperti rasa cemas biasa yang bersifat sementara, ketika presentasi , ujian atau bertemu seseorang. Phobia adalah kondisi yang menetap cukup lama dan bisa mengakibatkan seseorang merasa stress dengan respon fisiologis dan psikologisnya. Gangguan phobia bisa mempengaruhi aktivitas dan relasi sosial .Seseorang yang mengalami kondisi ini akan berusaha menghindari hal-hal yang memicu rasa takut atau menahannya dengan rasa cemas yang berlebihan,sebagai contoh : Fobia anjing, laba-laba, ular,kecoa,dll.Ada juga Fobia lingkungan, seperti pada ketinggian, tempat sempit,gelap,sepi,dll. Fobia situasi, seperti akan naik pesawat, datang ke dokter,ke rumah sakit,dll.Fobia terhadap tubuh, seperti pada darah, muntah, disuntik,dll. Fobia seksual, seperti takut untuk berhubungan seksual, atau takut penyakit menular seksual. Ada juga phobia sosial ,seseorang merasa takut dengan keramaian,kebisingan,kesesakan karena takut akan dibicarakan, diperhatikan,dinilai aneh,dll. Penderita biasanya akan cemas ketika berhubungan dengan orang baru,situasi baru,pengalaman baru.Penyebab phobia bisa bermacam-macam antara lain : trauma masa lalu,factor genetis,fungsi otak,dan factor yang lain.Bagaimana cara mengatasi phobia? Konsultasikan pada Psikolog professional Surabaya di 081235111900
🔹 Apa itu Fobia?
Fobia adalah gangguan kecemasan (anxiety disorder) berupa ketakutan berlebihan, irasional, dan tidak sebanding dengan bahaya nyata terhadap suatu objek, situasi, atau aktivitas tertentu.
➡️ Contoh: Takut ular itu normal, tapi kalau melihat gambar ular saja langsung panik → itu fobia.
➡️ Jadi, fobia bukan sekadar takut, tapi takut ekstrem yang mengganggu kehidupan sehari-hari.
🔹 Gejala Fobia
Jika seseorang menghadapi pemicu fobia (atau bahkan hanya memikirkannya), bisa muncul:
- Reaksi emosional → panik, cemas berlebihan, ingin lari.
- Gejala fisik → jantung berdebar, keringat dingin, gemetar, napas cepat, mual, pusing.
- Perilaku menghindar → selalu menjauhi situasi/objek yang ditakuti (misalnya tidak mau naik lift karena klaustrofobia).
- Gangguan fungsi → menghambat aktivitas sosial, pekerjaan, atau sekolah.
🔹 Jenis-Jenis Fobia
Menurut DSM-5, fobia dibagi menjadi beberapa kategori:
1. Specific Phobia (Fobia Spesifik)
Takut pada objek/situasi tertentu, misalnya:
- Zoophobia → takut binatang (contoh: arachnophobia = takut laba-laba).
- Acrophobia → takut ketinggian.
- Claustrophobia → takut ruang sempit/tertutup.
- Nyctophobia → takut gelap.
- Trypanophobia → takut jarum suntik.
2. Social Phobia (Social Anxiety Disorder)
- Takut berlebihan terhadap situasi sosial atau menjadi pusat perhatian.
- Contoh: takut berbicara di depan umum, takut dievaluasi/dinilai orang lain.
3. Agoraphobia
- Takut pada situasi di mana sulit untuk melarikan diri atau mendapat bantuan jika panik.
- Misalnya: takut berada di keramaian, transportasi umum, ruang terbuka/tertutup.
🔹 Penyebab Fobia
- Pengalaman traumatis → misalnya digigit anjing → takut anjing seumur hidup.
- Pembelajaran / observasi → melihat orang lain ketakutan bisa menular.
- Genetik & biologis → beberapa orang punya kecenderungan lebih mudah cemas.
- Kondisi otak → amigdala (bagian otak pengatur rasa takut) terlalu aktif.
🔹 Dampak Fobia
- Sosial → sulit bersosialisasi, menghindari orang/aktivitas.
- Pekerjaan → tidak bisa melakukan tugas tertentu (misalnya pilot dengan acrophobia).
- Psikologis → menimbulkan stres, isolasi diri, hingga depresi.
🔹 Cara Mengatasi Fobia
- Psikoterapi (paling efektif)
- Cognitive Behavioral Therapy (CBT) → mengubah pola pikir & respon terhadap rasa takut.
- Exposure Therapy (terapi paparan) → bertahap menghadapi pemicu fobia sampai rasa takut berkurang.
- Obat-obatan (dari psikiater bila parah)
- Antidepresan (SSRI) atau anti-cemas (benzodiazepine).
- Beta-blocker → mengurangi gejala fisik seperti jantung berdebar.
- Teknik relaksasi
- Meditasi, pernapasan dalam, olahraga → membantu mengontrol kecemasan.